Desain Rumah Ramah Lingkungan

Desain Rumah Ramah Lingkungan ( Green Design )

Merancang Rumah Ramah Lingkungan

Saat ini isu lingkungan menjadi topik yang hangat diperbincangkan oleh masyarakat. Rumah tinggal kita sebagai unit terkecil juga memiliki kontribusi besar terhadap baik buruknya keberlanjutan lingkungan baik secara fisik maupun sosial.

Oleh Karena itu proses perancangan rumah harus dipikirkan secara matang, bukan hanya indah, tapi juga harus berfungsi baik. Termasuk terciptanya keseimbangan antara nilai arsitektur dan unsur alam. Pendekatan perancangan ini sering disebut sebagai desain ramah lingkungan (Green Design).

Kita sebagai pengguna lingkungan hendaknya menyadari akan pentingnya keberadaan pohon dan tanaman sebagai salah satu “mesin terbesar” pemakan CO2 diudara, yang dapat mengurangi terjadinya pemanasan global dimuka bumi. Desain rumah jika tidak memiliki penghijauan akan menjadi kering, dan (sebaliknya) menjadi lengkap dan asri ketika ada unsur hijaunya.

Penghijauan dan peresapan harus menjadi isu utama secara umum. Estetika yang dibuat arsitek atau developer harus menunjang hal tersebut. Jangan ada kekhawatiran pada diri kita bahwa penghijauan membuat penampilan rumah menjadi jelek dan kotor. Kita bisa mengantisipasinya dengan memilih jenis tanaman yang daunnya tidak cepat rontok, jenis akarnya tidak menjalar ke mana – mana dan tidak mudah tumbang/roboh.

Atap Rumput

Penghijauan bisa ditempatkan dibagian atas dengan desain atap rumput, untuk menggantikan area hijau dibawah yang terpakai oleh bangunan. Meski tidak bisa menyerap air, setidaknya dapat berfungsi menyerap CO2 dan menyejukkan mata. Ruang dibawahnya juga cenderung dingin.

Agar rumput tumbuh bagus, kedalaman tanah pada atap dak beton minimal 25 cm. Sebelumnya dak beton diberi lapisan waterproofing agar tidak rembes dan roofdrain untuk mengalirkan air. Media tanam setelah tanah harus diberi lapisan ijuk dan kerikil sebagai rembesan agar air tidak menggenang.

Dengan tambahan akses, bagian atap yang ditanami rumput juga bisa memberi nilai tambah. Misalnya untuk pesta outdoor atau barbeque. Selain atap rumput, tampilan dinding beton juga bisa diberi tanaman rambat sehingga tampak hijau dan menarik.

Secondary Skin

Mengurangi penggunaan alat pendingin udara (AC) juga cara bijak agar rumah lebih ramah lingkungan. Biarkan aliran udara alami mendinginkan rumah dengan membuat ventilasi silang. Yakni, menempatkan dua bukaan (Jendela, Lubang angin) pada posisi yang berseberangan.

Untuk menahan panas masuk rumah, sebaiknya teritisan atap dibuat lebih lebar. Atau membuat secondaryskin alias kulit kedua. Secondary skin adalah lapisan kedua pada sebuah bangunan dimana fungsi dari secondary skin utamanya adalah untuk penahan sinar matahari langsung. Penemarapan secondary skin banyak terdapat pada bangunan yang berada di daerah yang beriklim tropis. Contoh dari penerapan secondary skin yang banyak diaplikasikan oleh masayarakat adalah penerapan dan penggunaan gordyn pada belakang kaca.

Elemen ini ditempatkan pada bagian terluar jendela kaca, dinding kaca, balkon, teras atau pintu. Bentuknya dapat berupa teralis besi, kisi-kisi kayu atau kerawangan dari batu bata. Bisa juga berupa tanaman rambat. Penambahan elemen ini dapat memberi privasi dan perasaan lebih aman. Tampilan rumah juga lebih indah.

Material

Utamakan material produksi lokal atau bahan daur ulang. Kurangi penggunaan kayu tua, gantikan dengan kayu lapis hasil pabrikasi. Pilih cat berbahan dasar air (waterbased) yang aman bagi kesehatan, baik untuk dinding maupun pelitur furniture. Hindari penggunaan material yang bisa mengeluarkan  zat yang mudah menguap ke udara.

Misalnya, cat berbahan dasar minyak (solvent), lapisan melamik, particle board, bahan adesif, bahkan karpet. “Baunya bisa tidak hilang berbulan-bulan sehingga dapat mengganggu kesehatan dan perubahan tingkah laku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *